KETERSEDIAAN air bersih di Kota Mataram dipastikan aman dan stabil meskipun berada di tengah musim kemarau.
Berdasarkan data hidrologi terbaru, rata-rata kedalaman muka air tanah atau air sumur warga di wilayah Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berada pada posisi yang sangat aman, yakni berkisar antara 1,5 hingga 4 meter dari permukaan tanah.
Meski terjadi penurunan debit air akibat cuaca panas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram menyatakan bahwa wilayah ini secara umum bebas dari ancaman kekeringan ekstrem.
Penurunan muka air sumur selama kemarau di Mataram tercatat hanya berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter dibanding saat musim hujan. Pada beberapa titik sumur gali tradisional milik warga, kedalaman air maksimal menyentuh angka 5 hingga 7 meter, namun pasokan air dipastikan tetap keluar dengan normal.
"Kondisi pelayanan air bersih dan sumur dangkal masyarakat di enam kecamatan—meliputi Sekarbela, Sandubaya, Cakranegara, Mataram, Ampenan, dan Selaparang—hingga saat ini terpantau normal dan tidak ada laporan krisis air yang signifikan," ungkap pihak BPBD Kota Mataram.
Kondisi ini terbilang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa wilayah tetangga di Kabupaten Lombok Barat, seperti kawasan Sekotong, yang kerap mengalami krisis air bersih akibat sumur dangkal yang mengering hingga menyisakan 20 centimeter saja.
Kekuatan cadangan air tanah di Kota Mataram ini terjadi karena posisi geografisnya yang mendapat suplai resapan alami dari aliran air bawah tanah Gunung Rinjani.
Kendati demikian, pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi di kawasan lingkar utara, seperti Rembiga dan Selaparang. Wilayah yang didominasi sektor pertanian tersebut menjadi fokus pemantauan debit air.
Pemerintah mengimbau warga Kota Mataram untuk tetap bijak dalam menggunakan air bersih selama musim kemarau guna menjaga stabilitas volume air tanah hingga musim penghujan tiba.
Berdasarkan data hidrologi terbaru, rata-rata kedalaman muka air tanah atau air sumur warga di wilayah Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berada pada posisi yang sangat aman, yakni berkisar antara 1,5 hingga 4 meter dari permukaan tanah.
Meski terjadi penurunan debit air akibat cuaca panas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram menyatakan bahwa wilayah ini secara umum bebas dari ancaman kekeringan ekstrem.
Penurunan muka air sumur selama kemarau di Mataram tercatat hanya berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter dibanding saat musim hujan. Pada beberapa titik sumur gali tradisional milik warga, kedalaman air maksimal menyentuh angka 5 hingga 7 meter, namun pasokan air dipastikan tetap keluar dengan normal.
"Kondisi pelayanan air bersih dan sumur dangkal masyarakat di enam kecamatan—meliputi Sekarbela, Sandubaya, Cakranegara, Mataram, Ampenan, dan Selaparang—hingga saat ini terpantau normal dan tidak ada laporan krisis air yang signifikan," ungkap pihak BPBD Kota Mataram.
Kondisi ini terbilang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa wilayah tetangga di Kabupaten Lombok Barat, seperti kawasan Sekotong, yang kerap mengalami krisis air bersih akibat sumur dangkal yang mengering hingga menyisakan 20 centimeter saja.
Kekuatan cadangan air tanah di Kota Mataram ini terjadi karena posisi geografisnya yang mendapat suplai resapan alami dari aliran air bawah tanah Gunung Rinjani.
Kendati demikian, pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi di kawasan lingkar utara, seperti Rembiga dan Selaparang. Wilayah yang didominasi sektor pertanian tersebut menjadi fokus pemantauan debit air.
Pemerintah mengimbau warga Kota Mataram untuk tetap bijak dalam menggunakan air bersih selama musim kemarau guna menjaga stabilitas volume air tanah hingga musim penghujan tiba.
