Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengapa Air Tanah Mataram Tetap Melimpah Meski Kemarau? Ini Jawabannya

Selasa, 25 Agustus 2026 | Agustus 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-28T05:38:58Z



CADANGAN
air tanah di Mataram tetap stabil meski sedang musim kemarau. Ternyata berkah itu diperoleh dari posisi Kota Mataram terhadap Gunung Rinjani. Artikel ini memaparkan fakta tersebut yang dirangkum Jagakota Online dari berbagai sumber.

Secara hidrogeologi, ketahanan air di Kota Mataram yang luar biasa saat musim kemarau bersumber dari perannya sebagai bagian dari Cekungan Air Tanah (CAT) Mataram-Selong. Cekungan ini bertindak sebagai reservoir bawah tanah raksasa yang diisi secara konstan oleh mekanisme limpahan dari kompleks Gunung Rinjani.

Berikut adalah uraian mendalam mengenai mekanisme sains, geologi, dan hidrologi yang mengalirkan air bawah tanah dari Gunung Rinjani hingga ke sumur-sumur warga di Kota Mataram.

Zona Tangkapan Air (Recharge Area) Rinjani

Gunung Rinjani bertindak sebagai menara air (water tower) alami Pulau Lombok. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, area lereng dan kaldera Rinjani menerima curah hujan tahunan yang sangat tinggi. Struktur batuan vulkanik di bagian atas gunung bersifat sangat sarang (porous).

Alih-alih semuanya mengalir menjadi air permukaan (sungai), sebagian besar air hujan terserap langsung ke dalam tanah secara vertikal, masuk ke dalam sistem akuifer pegunungan.

Lapisan Batuan Penyusun (Sistem Akuifer Volkanik)

Aliran air bawah tanah dari Rinjani menuju Mataram melewati lapisan batuan geologi yang unik. Yaitu Batuan Vulkanik Muda (Porositas Tinggi). Di mana lereng Rinjani didominasi oleh material hasil letusan seperti piroklastik, tufa, breksi, dan lava yang retak-retak.

Batuan ini memiliki permeabilitas tinggi, bertindak seperti spons raksasa yang meloloskan dan mengalirkan air ke bawah.

Selanjutnya peran Lapisan Aluvial Mataram (Reservoir Akhir). Ketika mengalir ke arah barat menuju Kota Mataram (dataran rendah), air bawah tanah ini mengisi lapisan batuan aluvial (endapan rombakan sungai dan gunung api). Lapisan aluvial inilah yang menjadi akuifer utama tempat warga Mataram menggali sumur mereka.

Pola Aliran dan Tekanan Hidrolik (Hydraulic Gradient)

Air bergerak dari tempat tinggi ke tempat rendah. Perbedaan ketinggian yang ekstrem antara puncak/ lereng Rinjani (di atas 2.000 mdpl) dan Kota Mataram (0-50 mdpl) menciptakan tekanan hidrolik bawah tanah yang sangat kuat.

Air bawah tanah bergerak secara lateral (horizontal) dari timur laut (Rinjani) menuju ke arah barat daya (Kota Mataram/ Selat Lombok).

Karena terus menerus ditekan oleh pasokan air dari atas gunung, air bawah tanah di Mataram selalu memiliki volume yang stabil dan berada dekat dengan permukaan tanah.

Jenis Akuifer di Kota Mataram

Dalam struktur bawah permukaan Mataram, terdapat dua jenis sistem pembawa air. Pertama, Akuifer Bebas (Unconfined Aquifer). Berada pada kedalaman dangkal (0–15 meter).

Ini adalah lapisan yang dimanfaatkan oleh sumur gali tradisional masyarakat. Akuifer ini masih mengalami fluktuasi penurunan debit sekitar 0,5 - 1,5 meter saat kemarau karena faktor penguapan lokal, namun pasokannya cepat pulih karena mendapat infiltrasi dari jaringan sungai yang berhulu di Rinjani.

Kedua, Akuifer Tertekan (Confined Aquifer). Berada pada kedalaman lebih dari 40–100 meter, terkurung di bawah lapisan lempung (impermeabel).

Lapisan ini memiliki kapasitas air tanah yang masif, bebas dari pengaruh cuaca permukaan, dan dimanfaatkan oleh sumur bor dalam milik pemerintah (PDRM) atau industri untuk mengamankan pasokan air bersih tanpa khawatir kekeringan.

Lantas mengapa Mataram berbeda dengan Lombok Selatan? Lombok bagian selatan (seperti kawasan Sekotong atau Jerowaru) didominasi oleh formasi batuan batu gamping (kapur) tua atau breksi tersier yang kedap air dan miskin tangkapan air.

Sebaliknya, Kota Mataram beruntung berada tepat di jalur keluar (discharge area) utama dari sistem hidrologi lereng barat Gunung Rinjani. Jalur inilah yang membuat air tanah Mataram seolah tak pernah habis meski musim kemarau melanda.


×
Berita Terbaru Update