Tanah semakin mahal. Ruang terbuka semakin sedikit. Anak-anak semakin akrab dengan layar daripada tanah tempat mereka berpijak. Sementara hubungan antarwarga, yang dahulu begitu mudah terbentuk di kampung-kampung, semakin sering digantikan oleh kehidupan yang serba sendiri.
Di tengah keadaan seperti itu, Jagakota mencoba melakukan sesuatu yang sederhana. Menyediakan ruang untuk kembali bertemu.
Jagakota bukan sekadar sebuah tempat. Ia adalah komunitas yang percaya bahwa kota tidak hanya dibangun dengan jalan, gedung, dan pusat perdagangan. Kota juga dibangun oleh manusia yang saling mengenal, lingkungan yang dirawat, pengetahuan yang dibagikan, dan anak-anak yang diberi kesempatan untuk belajar dari kehidupan nyata.
Karena itu, Jagakota tumbuh dari gagasan yang sederhana. Yakni menjaga kota dengan cara menjaga kehidupan di dalamnya.
Di sebuah lahan yang tidak terlalu luas, berbagai kegiatan dipertemukan. Ada kebun, peternakan, budidaya ikan, kegiatan belajar, ruang bermain, dan berbagai eksperimen kecil yang mempertemukan manusia dengan alam.
Anak-anak dapat melihat bagaimana sayuran tumbuh. Mereka dapat mengenal ayam bukan hanya sebagai gambar di buku pelajaran, tetapi sebagai makhluk hidup yang harus dirawat. Mereka dapat belajar bahwa makanan tidak muncul begitu saja di rak supermarket.
Dan orang dewasa pun dapat kembali belajar sesuatu yang mungkin pernah mereka ketahui ketika masih kecil, bahwa kehidupan membutuhkan tanah, air, waktu, kesabaran, dan kerja bersama.
Jagakota juga percaya bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Kebun dapat menjadi ruang belajar, kandang dapat menjadi laboratorium, atau bahkan sebuah pohon dapat menjadi guru. Percakapan antarwarga dapat menjadi sekolah, dan sebuah komunitas dapat menjadi tempat seseorang menemukan kembali rasa percaya bahwa ia tidak hidup sendirian.
Karena itu, Jagakota membuka diri sebagai ruang perjumpaan berbagai kelompok.Anak-anak sekolah, keluarga, petani, komunitas, warga kampung, relawan, dan siapa saja yang ingin belajar atau berbagi pengetahuan.
Di sini, tidak ada gagasan bahwa seseorang harus menjadi ahli terlebih dahulu untuk ikut terlibat. Justru sebaliknya. Jagakota ingin menjadi tempat di mana orang boleh datang dengan pertanyaan.
Apa yang bisa kita tanam? Bagaimana makanan kita diproduksi? Mengapa pohon penting bagi kota? Bagaimana anak-anak belajar mencintai lingkungannya? Bagaimana sebuah kampung dapat menjadi lebih mandiri?
Dan yang paling penting, kota seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar besar. Tetapi Jagakota percaya bahwa jawaban terhadap persoalan besar sering kali dimulai dari tindakan yang kecil.
Menanam satu pohon. Merawat satu kebun. Mengajari seorang anak. Memelihara seekor ayam. Membuat satu kegiatan bersama. Mendengarkan tetangga. Atau sekadar menyediakan sebuah tempat di mana orang dapat duduk dan berbicara tanpa harus memiliki kepentingan apa pun.
Jagakota bukan proyek yang sudah selesai. Ia adalah proses. Ia tumbuh bersama orang-orang yang datang, mencoba, mengusulkan, bekerja, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali.
Sebab komunitas yang hidup bukanlah komunitas yang tidak pernah mengalami masalah. Komunitas yang hidup adalah komunitas yang masih memiliki orang-orang yang bersedia mengurusinya.
Jagakota ingin menjadi salah satunya. Sebuah ruang kecil di kota. Tempat tanah tetap memiliki arti. Tempat anak-anak boleh bermain dan belajar. Tempat pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi dibagikan. Tempat warga dapat bertemu.
Dan tempat kita mengingat kembali satu hal yang sangat sederhana, bahwa kota adalah milik orang-orang yang menjaganya. Itulah Jagakota. Bukan sekadar tempat untuk datang. Tetapi sebuah ajakan untuk ikut menjaga.
