Notification

×

Iklan

Iklan

17 Pohon Besar Jagakota: Menjaga yang Sudah Lebih Dulu Ada

Rabu, 19 Agustus 2026 | Agustus 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-19T13:44:59Z



DI SEBUAH KOTA yang terus berubah, ada sesuatu yang sering luput kita perhatikan: pohon-pohon yang tetap berdiri ketika hampir semua yang ada di sekitarnya telah berubah.


Bangunan datang dan pergi.
Jalan diperlebar.
Lahan berganti fungsi.
Generasi berganti.
Tetapi sebuah pohon bisa tetap

berada di tempat yang sama
selama puluhan tahun.

Di Jagakota ada 17 pohon besar yang kini menjadi bagian penting kawasan tersebut. Bagi sebagian orang, mungkin mereka hanya terlihat sebagai pohon-pohon tua yang tumbuh di sebuah lahan.

Tetapi bagi Jagakota, keberadaan 17 pohon itu memiliki arti yang jauh lebih besar. Mereka adalah bagian dari ekosistem sekaligus bagian dari ingatan tempat. Karena itu, Jagakota berencana melakukan pemeliharaan dan konservasi terhadap seluruh pohon tersebut.

Bukan sekadar menebang atau memangkas
Di banyak tempat, ketika sebuah pohon tumbuh terlalu besar, pertanyaan yang muncul sering kali sederhana: apakah pohon itu mengganggu? Jarang kita bertanya lebih jauh: Apakah pohon itu sehat? Bagaimana kondisi batang dan cabangnya? Apakah ada bagian yang berisiko patah Bagaimana kondisi tanah di sekitar akarnya? Apa yang dapat dilakukan agar pohon tetap aman dan dapat terus hidup?

Cara pandang semacam inilah yang ingin dibangun Jagakota. Pemeliharaan pohon bukan sekadar memangkas cabang. Ia membutuhkan pengamatan, penilaian kondisi pohon, pembersihan bagian yang berbahaya, perawatan tajuk, perhatian terhadap kesehatan batang dan akar, serta pemantauan secara berkala.

Tujuannya bukan membuat pohon terlihat “rapi”. Tujuannya adalah membuat pohon tetap sehat, aman, dan hidup selama mungkin.

Pohon adalah infrastruktur kehidupan
Kita terbiasa menyebut jalan, drainase, jembatan, dan bangunan sebagai infrastruktur kota. Tetapi pohon juga menyediakan berbagai fungsi yang tidak kalah penting. Pohon memberikan keteduhan. Membantu mengurangi panas. Menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup. Membantu menjaga tanah dan air. Menyerap karbon. Dan menciptakan suasana yang membuat sebuah tempat terasa lebih hidup.

Di kawasan pendidikan dan komunitas seperti Jagakota, fungsi tersebut menjadi semakin penting. Anak-anak yang datang ke Jagakota bukan hanya melihat kebun dan kandang. Mereka juga dapat belajar bahwa sebuah pohon adalah makhluk hidup yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh.

Apa yang ditanam hari ini mungkin baru benar-benar terasa manfaatnya oleh generasi berikutnya. Di situlah pendidikan lingkungan menemukan maknanya.

17 pohon, 17 penjaga kehidupan
Jagakota ingin melihat 17 pohon besar ini bukan sebagai objek yang harus dipertahankan semata, tetapi sebagai 17 penjaga kehidupan. Masing-masing memiliki bentuk, usia, karakter, dan kondisi yang mungkin berbeda.

Karena itu, pendekatan perawatannya pun tidak dapat disamaratakan. Pohon yang sehat membutuhkan perlakuan berbeda dengan pohon yang memiliki cabang rapuh. Pohon yang tumbuh di ruang terbuka memiliki persoalan berbeda dengan pohon yang berada dekat bangunan atau jalur aktivitas manusia.

Konservasi berarti mengenali perbedaan itu dan merawat setiap pohon berdasarkan kebutuhannya. Langkah pertama adalah mengenali kondisi mereka. Kemudian melakukan pemeliharaan yang diperlukan. Setelah itu, pemantauan dilakukan secara berkala.

Dengan cara demikian, konservasi tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan satu kali, tetapi menjadi proses jangka panjang.

Mengapa harus dipertahankan? Jawabannya sebenarnya sederhana. Karena menumbuhkan pohon besar membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebuah pohon dapat ditebang dalam hitungan menit.

Tetapi menggantinya dengan pohon baru tidak berarti kita mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Pohon muda memang penting. Menanam pohon baru harus terus dilakukan. Tetapi pohon besar memiliki nilai ekologis yang tidak dapat langsung digantikan oleh bibit yang baru ditanam. Karena itu, menjaga pohon yang sudah ada seharusnya berjalan bersamaan dengan menanam pohon baru.

Konservasi bukan memilih antara menanam dan menjaga. Kita membutuhkan keduanya.

Dari Jagakota untuk kota
Apa yang dilakukan Jagakota mungkin tampak kecil jika dibandingkan dengan persoalan lingkungan kota secara keseluruhan. Hanya 17 pohon. Tetapi perubahan lingkungan memang sering kali dimulai dari keputusan-keputusan kecil.

Sebuah komunitas memilih tidak menebang pohon hanya karena pohon itu sudah tua. Sebuah sekolah mengajarkan anak-anak untuk mengenali pohon di sekitarnya. Sebuah keluarga belajar bahwa cabang yang rapuh harus dirawat, bukan sekadar dibiarkan.

Dan sebuah kota mulai memahami bahwa pohon bukan penghalang pembangunan.

Pohon adalah bagian dari kehidupan kota. Kelak, anak-anak yang hari ini bermain di bawah naungan pohon-pohon Jagakota mungkin akan tumbuh dewasa. Mungkin mereka akan kembali bertahun-tahun kemudian.

Dan mereka masih akan menemukan pohon yang sama. Masih berdiri. Masih memberi teduh. Masih menjadi rumah bagi burung dan serangga. Masih menyimpan udara sejuk di antara panas kota.

Pada saat itulah kita akan memahami bahwa menjaga 17 pohon bukanlah pekerjaan kecil. Kita sedang menjaga sesuatu yang tidak mungkin kita ciptakan kembali dalam waktu singkat. Kita sedang menjaga kehidupan.

Dan mungkin juga, tanpa kita sadari, kita sedang menjaga sebagian dari ingatan kota agar tidak hilang bersama perubahan zaman.
×
Berita Terbaru Update