KALAU KITA berdiri di bawah sebuah pohon besar dan memperhatikannya beberapa saat, mungkin kita tidak akan mendengar apa-apa.
Tidak ada suara percakapan. Tidak ada sapaan. Tidak ada kata-kata seperti yang kita gunakan untuk berbicara. Tetapi apakah itu berarti pohon benar-benar diam? Belum tentu.
Para ilmuwan menemukan bahwa tumbuhan memiliki berbagai cara untuk menerima, mengirim, dan merespons informasi dari lingkungan di sekitarnya. Mereka memang tidak berbicara seperti manusia.
Tetapi pohon dapat berkomunikasi. Dan cara mereka berkomunikasi ternyata sangat menarik.
Pohon tidak memiliki mulut, tetapi memiliki cara berkomunikasi
Manusia berkomunikasi terutama menggunakan bahasa, suara, tulisan, gerak tubuh, dan berbagai teknologi. Pohon tentu tidak memiliki semua itu. Namun tumbuhan memiliki sistem biologis yang memungkinkan mereka merespons keadaan di sekitarnya.
Ketika diserang serangga, misalnya, tanaman tertentu dapat menghasilkan senyawa kimia sebagai bagian dari mekanisme pertahanannya. Senyawa tersebut juga dapat memengaruhi tumbuhan lain di sekitarnya.
Dengan kata lain, tumbuhan dapat memberikan sinyal ketika menghadapi ancaman. Bayangkan sebuah pohon sedang dimakan ulat. Pohon tidak bisa berteriak: “Tolong, ada ulat!”
Tetapi tubuhnya dapat merespons serangan tersebut melalui berbagai perubahan kimia dan fisiologis. Itulah salah satu bentuk “percakapan” yang sangat berbeda dari bahasa manusia.
Bagaimana dengan akar?
Di bawah tanah, kehidupan ternyata jauh lebih ramai daripada yang terlihat. Akar pohon berinteraksi dengan tanah, air, mikroorganisme, dan berbagai organisme lainnya.
Salah satu yang paling menarik adalah hubungan antara akar tanaman dan jamur mikoriza. Dalam hubungan tertentu, jamur membantu tanaman memperoleh air dan mineral dari tanah. Sebagai imbalannya, tanaman menyediakan hasil fotosintesis berupa karbon bagi jamur.
Jaringan jamur yang berada di dalam tanah dapat membentuk hubungan dengan lebih dari satu tumbuhan. Karena itulah para peneliti tertarik mempelajari kemungkinan bahwa jaringan bawah tanah ini dapat menjadi salah satu jalur perpindahan berbagai senyawa dan sinyal antar tanaman.
Media populer kadang menyebutnya sebagai “wood wide web”—sebuah istilah yang menggambarkan jaringan hubungan di bawah tanah. Namun ada hal penting yang perlu kita pahami.
Istilah “pohon berbicara” bukan berarti pohon memiliki percakapan seperti manusia. Yang terjadi jauh lebih rumit dan menarik: tumbuhan menerima sinyal, mengirim sinyal, dan mengubah responsnya berdasarkan kondisi lingkungan.
Apakah pohon bisa “memperingatkan” pohon lain?
Ini bagian yang sangat menarik. Dalam beberapa penelitian, tanaman yang mengalami serangan herbivora dapat menghasilkan senyawa volatil yang tersebar melalui udara. Senyawa tersebut dapat memengaruhi tanaman lain yang berada di dekatnya dan memicu respons pertahanan.
Jadi, ketika satu tanaman diserang, tanaman lain di sekitarnya dapat memperoleh semacam informasi kimia tentang adanya ancaman.
Tetapi kita perlu berhati-hati dengan istilah “peringatan”. Pohon tidak sedang mengirim pesan dengan kesadaran seperti manusia mengirim WhatsApp kepada tetangganya.
Ini adalah sistem biologis yang berkembang melalui proses evolusi. Dan justru di situlah keajaibannya. Alam memiliki cara berkomunikasi yang tidak membutuhkan kata-kata.
Apakah semua pohon saling terhubung? Tidak sesederhana itu.
Kita sering menemukan cerita populer yang menggambarkan hutan seperti sebuah jaringan besar tempat semua pohon saling terhubung dan saling membantu. Gambaran tersebut menarik, tetapi kenyataan ilmiahnya lebih kompleks.
Hubungan antara tumbuhan, jamur, tanah, dan organisme lain sangat beragam. Tidak semua pohon terhubung dengan cara yang sama. Tidak semua pertukaran berarti “saling membantu”. Dampaknya juga bergantung pada jenis tanaman, jenis jamur, kondisi tanah, dan lingkungan.
Jadi, kita tidak perlu membuat alam menjadi dongeng agar terasa menakjubkan. Ilmu pengetahuan sendiri sudah cukup menakjubkan. Lalu, apa yang sebenarnya dilakukan pohon?
Pohon terus menerus menerima informasi dari lingkungan. Seperti kondisi cahaya, air, suhu, sentuhan, serangan serangga, ondisi tanah, dan keberadaan organisme lain. Kemudian pohon merespons semuanya melalui proses biologis yang sangat kompleks.
Ia mengatur pertumbuhan. Mengubah arah perkembangan akar dan tunas. Membuka atau menutup stomata pada daun. Menghasilkan senyawa pertahanan. Berinteraksi dengan mikroorganisme. Dan melakukan berbagai proses lain yang memungkinkan dirinya bertahan hidup.
Semua itu berlangsung tanpa otak seperti yang dimiliki manusia. Tanpa telinga. Tanpa mulut. Tanpa bahasa. Namun tetap merupakan sebuah sistem kehidupan yang mampu menerima dan merespons informasi. Jadi, apakah pohon berbicara?
Kalau yang dimaksud berbicara adalah mengucapkan kata-kata seperti manusia, jawabannya tentu tidak.
Tetapi jika “berbicara” kita gunakan sebagai cara sederhana untuk menggambarkan kemampuan tumbuhan menerima dan mengirim sinyal, berinteraksi, serta merespons lingkungannya, maka jawabannya menjadi jauh lebih menarik:
Ya, pohon memiliki cara mereka sendiri untuk berkomunikasi. Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi “Apakah pohon berbicara?” Melainkan, “Sudahkah kita belajar mendengarkan?”
Belajar mendengarkan alam
Di Jagakota, pertanyaan ini menjadi salah satu pintu untuk mengajak anak-anak mengenal alam. Kita tidak ingin anak hanya tahu bahwa pohon menghasilkan oksigen. Kita ingin mereka melihat pohon sebagai bagian dari sebuah sistem kehidupan yang jauh lebih besar.
Ada akar. Ada tanah. Ada air. Ada jamur. Ada serangga. Ada burung. Ada manusia. Semuanya saling berhubungan dengan cara yang kadang belum sepenuhnya kita pahami.
Ketika seorang anak berdiri di bawah pohon dan bertanya, “Apakah pohon bisa berbicara?”, sebenarnya ia sedang membuka pintu menuju ilmu pengetahuan yang sangat luas. Dan mungkin, setelah mengetahui jawabannya, ia akan memandang pohon dengan sedikit berbeda.
Tidak lagi sekadar sebagai sesuatu yang hijau dan diam. Tetapi sebagai makhluk hidup yang memiliki cara sendiri untuk merasakan, merespons, dan berhubungan dengan dunia di sekitarnya.
Mungkin kita memang tidak bisa mendengar suara pohon. Tetapi kita bisa belajar membaca tanda-tandanya. Dan semakin kita belajar memahami alam, semakin kita menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih ramai daripada yang selama ini kita kira.
Di Jagakota, pertanyaan ini menjadi salah satu pintu untuk mengajak anak-anak mengenal alam. Kita tidak ingin anak hanya tahu bahwa pohon menghasilkan oksigen. Kita ingin mereka melihat pohon sebagai bagian dari sebuah sistem kehidupan yang jauh lebih besar.
Ada akar. Ada tanah. Ada air. Ada jamur. Ada serangga. Ada burung. Ada manusia. Semuanya saling berhubungan dengan cara yang kadang belum sepenuhnya kita pahami.
Ketika seorang anak berdiri di bawah pohon dan bertanya, “Apakah pohon bisa berbicara?”, sebenarnya ia sedang membuka pintu menuju ilmu pengetahuan yang sangat luas. Dan mungkin, setelah mengetahui jawabannya, ia akan memandang pohon dengan sedikit berbeda.
Tidak lagi sekadar sebagai sesuatu yang hijau dan diam. Tetapi sebagai makhluk hidup yang memiliki cara sendiri untuk merasakan, merespons, dan berhubungan dengan dunia di sekitarnya.
Mungkin kita memang tidak bisa mendengar suara pohon. Tetapi kita bisa belajar membaca tanda-tandanya. Dan semakin kita belajar memahami alam, semakin kita menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih ramai daripada yang selama ini kita kira.
