![]() |
| Gotong royong warga di kampung kota, Kota Mataram. FOTO F HAFIZ. |
Dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kota Mataram, Sabtu (29 Agustus), Walikota Mataram H Mohan Roliskana menyampaikan satu pesan yang menarik untuk direnungkan. Pembangunan kota, kata Walikota di pidatonya, tidak lahir dari satu pemerintahan.
Ada yang memulai, ada yang meneruskan, ada yang memperbaiki. Ada pula yang menjaga agar apa yang sudah dibangun tidak kembali ke titik awal.
“Mataram tidak tumbuh karena satu tangan. Mataram tumbuh karena banyak tangan yang saling meneruskan,” kata Walikota Mataram.
Kalimat itu sederhana. Tetapi kalau kita renungkan lebih jauh, ia menyimpan pertanyaan penting. Tangan siapa saja yang sebenarnya membangun Mataram? Jawabannya tentu banyak.
Seperti yang diucapkan Walikota, ada tangan pemerintah dan DPRD, ada tangan para guru, tenaga kesehatan, ASN, pelaku usaha, pekerja, komunitas, tokoh agama dan masyarakat. Ada tangan dunia usaha dan insan pers.
Tetapi bagi kita, ada pula tangan-tangan yang mungkin jarang disebut dalam podium-podium resmi. Tangan warga kampung.
Mataram bukan hanya jalan protokol, gedung pemerintahan, pusat perdagangan, hotel, pertokoan, taman kota, dan berbagai proyek pembangunan. Mataram juga adalah gang-gang kecil.
Ia adalah halaman rumah tempat anak-anak bermain. Warung tempat warga bertukar-kabar. Pohon tua yang berdiri puluhan tahun. Saluran air yang dibersihkan warga. Jalan gang yang sesekali menjadi lapangan bola.
Di ruang-ruang seperti itulah sebagian besar kehidupan kota berlangsung. Kita mungkin tidak menemukan namanya dalam laporan pembangunan. Tetapi tanpa semua itu, Mataram hanyalah kumpulan bangunan.
Sebab kota pada dasarnya bukan benda mati. Kota adalah kehidupan. Dan kehidupan kota sebagian besar tumbuh dari lingkungan-lingkungan kecil yang kita sebut kampung kota.
Kita patut mengapresiasi berbagai capaian pembangunan Mataram. Data yang disampaikan dalam momentum HUT menunjukkan sejumlah indikator yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Kota Mataram pada 2025 mencapai 5,43 persen.
Indeks Pembangunan Manusia mencapai 82,37 dan masuk kategori sangat tinggi. Prevalensi stunting turun menjadi 5,53 persen, sementara angka kemiskinan berada pada 7,15 persen. Mataram juga memperoleh sejumlah penghargaan dan pengakuan nasional.
Semua itu penting. Angka-angka tersebut membantu kita mengetahui ke mana kota bergerak. Tetapi angka bukan seluruh cerita tentang kota. Ada pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak selalu masuk dalam tabel statistik.
Apakah anak-anak kampung kota Mataram masih mempunyai tempat bermain? Apakah warga kampung kota masih mempunyai ruang untuk berkumpul? Apakah pohon-pohon besar masih mempunyai tempat untuk tumbuh?
Apakah sungai dan saluran air kita semakin sehat? Apakah kampung-kampung lama masih memiliki ruang hidup di tengah tekanan pembangunan? Apakah warga miskin tetap mempunyai tempat yang layak di kota? Dan yang tidak kalah penting, apakah warga merasa semakin memiliki kotanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab dengan angka. Tetapi ia penting untuk mengukur kualitas sebuah kota.
Kampung Kota
Kampung kota sering berada dalam posisi yang unik. Ia sudah ada sebelum sebagian kawasan modern tumbuh di sekelilingnya. Di dalamnya terdapat sejarah, hubungan sosial, kebiasaan, tradisi, dan pengetahuan lokal yang terbentuk selama bertahun-tahun.Namun ketika kota berkembang, kampung bisa menjadi ruang yang paling mudah terdesak. Tanah semakin mahal, bangunan semakin padat. Ruang terbuka berkurang, pohon ditebang.
Gang berubah menjadi jalur kendaraan, anak-anak kehilangan ruang bermain. Dan sedikit demi sedikit, kampung dapat kehilangan karakter sosialnya.
Pada titik tertentu kita mungkin keliru melihat kampung kota hanya sebagai kawasan yang belum tertata. Padahal bisa jadi kampung bukan sesuatu yang harus dihapus untuk membuat kota menjadi modern.
Justru kampung merupakan bagian dari identitas kota yang perlu dirawat. Kota modern tidak harus berarti kota yang kehilangan kampungnya.
Wali Kota Mataram berbicara tentang kesinambungan pembangunan. Gagasan itu layak diperluas. Kesinambungan kota bukan hanya memastikan program pemerintah berikutnya dapat meneruskan program pemerintah sebelumnya.
Kesinambungan juga berarti memastikan sesuatu yang baik yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya tidak hilang karena pembangunan generasi berikutnya.
Pohon yang ditanam orang tua kita, ruang terbuka tempat anak-anak bermain, sungai yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan warga, semua itu juga merupakan warisan pembangunan. Dan semuanya membutuhkan kesinambungan.
Jangan sampai kita sangat sibuk membangun sesuatu yang baru, tetapi lupa menjaga sesuatu yang sudah membuat kota ini hidup.
Ada satu hal lain yang menarik dari ungkapan “banyak tangan.” Jika pembangunan Mataram memang lahir dari banyak tangan, maka seharusnya masa depan Mataram juga tidak ditentukan oleh sedikit suara saja.
Warga kampung kota harus mempunyai ruang untuk berbicara. Komunitas lingkungan harus didengar. Anak-anak dan kaum muda perlu dilibatkan ketika membicarakan ruang publik. Pedagang kecil perlu diperhitungkan ketika kawasan ditata.
Sebab mereka bukan sekadar penerima pembangunan. Mereka adalah bagian dari pembentuk kota. Kota yang baik bukan hanya kota yang dibangun untuk warga. Kota yang baik adalah kota yang dibangun bersama warga.
Ulang tahun kota seharusnya bukan hanya kesempatan untuk mengatakan bahwa pembangunan telah berhasil. Ia juga kesempatan untuk bercermin. Setelah 33 tahun, kita boleh bangga dengan apa yang telah dicapai.
Tetapi kita juga boleh bertanya dengan jujur: apa yang masih harus dijaga. Apa yang hampir hilang, siapa yang belum cukup didengar, ruang mana yang perlu diselamatkan, dan warisan apa yang ingin kita serahkan kepada Mataram 33 tahun mendatang?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda bahwa kita tidak mencintai kota. Sebaliknya, mencintai kota berarti berani melihatnya secara utuh.
Melihat keberhasilannya, tetapi juga melihat celah-celah yang masih harus diperbaiki. Melihat gedung-gedungnya, tetapi juga melihat kampung-kampungnya. Melihat jalannya, tetapi juga melihat pohon-pohonnya. Melihat ekonominya, tetapi juga melihat manusia yang menghidupinya.
Pada usia ke-33 ini, Mataram mungkin tidak harus bermimpi menjadi kota yang paling megah. Barangkali yang lebih penting adalah menjadi kota yang semakin manusiawi. Kota yang memberi ruang kepada anak-anak, yang ramah kepada orang tua, kota yang menjaga pohon.
Kota yang merawat sungai, kota yang menghargai kampung, kota yang memberi tempat bagi usaha kecil, kota yang menyediakan ruang bagi warga untuk bertemu dan berbicara. Dan kota yang membuat warganya merasa bahwa mereka bukan sekadar orang yang tinggal di dalamnya, tetapi pemilik kehidupan kota itu sendiri.
Sebab benar, Mataram tidak tumbuh karena satu tangan. Mataram tumbuh karena banyak tangan yang saling meneruskan. Tetapi karena itu pula, kita perlu memastikan bahwa tangan-tangan tersebut tidak hanya bekerja untuk membangun.
Sebagian juga harus bekerja untuk merawat. Merawat kampung.

