Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Metil Bromida dan Tantangan Pertanian Berkelanjutan, Pestisida Nabati Jadi Alternatif

Senin, 24 Agustus 2026 | Agustus 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-26T15:49:06Z


PENGENDALIAN hama merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Namun, penggunaan bahan kimia tertentu perlu mendapat perhatian karena tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak terhadap lapisan ozon.

Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah
metil bromida (methyl bromide). Senyawa dengan rumus CH₃Br tersebut merupakan bahan kimia yang memiliki kemampuan sebagai fumigan untuk mengendalikan berbagai hama dan organisme pengganggu.

Di Indonesia, metil bromida termasuk dalam daftar bahan aktif yang ditetapkan sebagai pestisida terbatas, dengan bidang penggunaan antara lain untuk keperluan karantina dan pra-pengapalan.

Perhatian terhadap metil bromida tidak terlepas dari dampaknya terhadap lapisan ozon. Dalam kerangka Protokol Montreal, metil bromida dikategorikan sebagai zat perusak ozon dengan nilai ozone-depleting potential (ODP) sebesar 0,7. Penggunaannya untuk sektor pertanian secara global telah didorong untuk dikurangi karena kontribusinya terhadap penipisan lapisan ozon.

Meski demikian, penggunaan metil bromida masih dapat ditemukan dalam konteks tertentu, khususnya karantina dan pra-pengapalan.

Sekretariat Ozon PBB menjelaskan bahwa penggunaan tersebut ditujukan antara lain untuk mencegah masuk, berkembang, atau menyebarnya organisme pengganggu yang menjadi perhatian karantina, termasuk dalam proses ekspor yang harus memenuhi persyaratan fitosanitari negara tujuan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mencari metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Salah satu pilihan yang dapat dikembangkan adalah pestisida nabati, yakni pestisida yang memanfaatkan senyawa aktif dari tanaman untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa pestisida nabati dapat bekerja melalui berbagai mekanisme, mulai dari menghambat perkembangan hama, mengganggu reproduksi, menurunkan nafsu makan, hingga mengusir serangga. Bahan aktifnya juga relatif mudah terurai di lingkungan.

Penggunaan pestisida nabati memiliki sejumlah keunggulan. Selain berpotensi mengurangi pencemaran tanah dan air, pendekatan tersebut dapat membantu menjaga keberadaan musuh alami hama serta mempertahankan kesehatan ekosistem pertanian.

Namun, bukan berarti semua pestisida nabati otomatis aman atau selalu lebih efektif. Pemilihan produk dan penggunaannya tetap harus berdasarkan kebutuhan tanaman, dosis, sasaran organisme pengganggu, serta ketentuan yang berlaku.

Kementerian Pertanian sendiri menekankan pentingnya penggunaan pestisida secara bijaksana melalui prinsip enam tepat, yakni tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis, tepat waktu, tepat dosis atau konsentrasi, dan tepat cara penggunaan.

Penggunaan pestisida yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan, resistensi hama, serta gangguan terhadap kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati.

Karena itu, masa depan pertanian tidak cukup hanya mengejar produksi tinggi. Pengendalian hama perlu diarahkan menuju sistem yang lebih berkelanjutan melalui kombinasi pengamatan lapangan, pengendalian hayati, praktik budidaya yang baik, serta penggunaan pestisida yang benar-benar diperlukan.

Pestisida nabati dapat menjadi salah satu bagian dari solusi tersebut. Dengan pemanfaatan bahan pengendali hama yang lebih ramah lingkungan dan penerapan pengendalian hama terpadu, produktivitas pertanian dapat tetap dijaga tanpa mengabaikan kesehatan manusia, kelestarian lingkungan, dan perlindungan lapisan ozon.

×
Berita Terbaru Update