Notification

×

Iklan

Iklan

Harlah Gus Dur 2026 di Jagakota: Merusak Alam, Merusak Kemanusiaan

Rabu, 19 Agustus 2026 | Agustus 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-19T13:45:06Z



Memperingati Harlah Gus Dur 2026, Jagakota bekerja sama dengan Gusdurian Mataram menggelar rangkaian kegiatan bertema “Merusak Alam, Merusak Kemanusiaan,” Sabtu, 8 Agustus 2026, di Jagakota Homestead.

Peringatan tersebut tidak sekadar menjadi acara mengenang sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia menjadi ruang untuk kembali membicarakan persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih luas. Bahwa kerusakan alam pada akhirnya selalu berhubungan dengan kehidupan dan kemanusiaan.

Tema tersebut terasa semakin relevan ketika berbagai persoalan ekologis berlangsung di sekitar kehidupan masyarakat. Kerusakan lingkungan tidak berhenti pada hilangnya pohon, rusaknya sungai, berkurangnya ruang terbuka, atau perubahan bentang alam. Di balik semua itu terdapat manusia yang kehilangan ruang hidup, kesehatan, keamanan, mata pencaharian, bahkan hak untuk menikmati lingkungan yang baik.

Karena itu, Harlah Gus Dur 2026 di Jagakota dirancang bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai ruang perjumpaan antara seni, film, diskusi, dan gagasan tentang keadilan ekologis.

Lagu-lagu tentang alam membuka perjumpaan

Suasana Jagakota Homestead pada sore hingga malam hari dihidupkan oleh musik. Under The Trees Band tampil membawakan lagu-lagu bertema alam, disusul penampilan musisi tamu Embun Jiwa Band.

Musik menjadi cara yang sederhana untuk mengajak orang kembali mendengarkan alam. Ada sesuatu yang menarik ketika pesan tentang lingkungan tidak disampaikan melalui ceramah, melainkan melalui lagu. Alam tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu dirasakan, dicintai, dan dirawat.

Di antara pepohonan Jagakota, lagu-lagu tentang alam mendapatkan ruangnya sendiri. Musik dan lingkungan pun bertemu dalam suasana yang cair, akrab, dan terbuka.

Menonton “Republik Rente”

Agenda utama Harlah Gus Dur 2026 di Jagakota adalah diskusi dan nonton bareng film dokumenter Republik Rente produksi Watchdoc Documentary. Film dokumenter menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan lingkungan secara lebih kritis.

Alih-alih hanya berbicara tentang kerusakan alam sebagai persoalan teknis, diskusi mengajak peserta melihat hubungan antara sumber daya alam, kepentingan ekonomi, kebijakan, dan kehidupan masyarakat.

Keterlibatan Watchdoc dalam rangkaian Harlah Gus Dur 2026 juga menjadi bagian dari gerakan peringatan Harlah Gus Dur secara nasional.

Di Jagakota, film tidak berhenti ketika layar menjadi gelap. Justru setelah film selesai, percakapan dimulai. Apa yang sesungguhnya terjadi ketika alam diperlakukan hanya sebagai sumber komoditas? Siapa yang mendapatkan keuntungan? Siapa yang menanggung kerugiannya? Dan bagaimana masyarakat dapat memperjuangkan haknya ketika ruang hidup mereka berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi penting karena krisis ekologis bukan hanya persoalan lingkungan. Ia juga merupakan persoalan keadilan.

Dari kampung kota, mencari jalan menuju kebijakan

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Open Mic “Mendorong Kebijakan Afirmatif, Solusi untuk Keadilan Ekologi Kampung Kota” yang disampaikan oleh Muhammad F. Hafiz.

Kampung kota menjadi titik penting dalam pembicaraan ini. Kampung sering kali berada di tengah tekanan pembangunan kota. Di satu sisi masyarakat membutuhkan ruang hidup, hunian, pekerjaan, dan infrastruktur. Di sisi lain, kota terus berkembang dengan kebutuhan terhadap lahan dan sumber daya yang semakin besar.

Dalam situasi tersebut, masyarakat kampung tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai objek pembangunan. Mereka harus menjadi bagian dari pembuat keputusan. Karena persoalan ekologis di kampung kota tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan umum. Dibutuhkan kebijakan afirmatif yang mengakui kondisi, kebutuhan, dan kerentanan masyarakat yang hidup di dalamnya.

Keadilan ekologis, dengan demikian, bukan hanya berbicara tentang menyelamatkan lingkungan. Ia juga berbicara tentang siapa yang berhak tinggal, siapa yang berhak menikmati lingkungan yang sehat, siapa yang menentukan arah pembangunan, dan siapa yang harus menanggung dampak ketika lingkungan rusak.

Menghidupkan kembali gagasan Gus Dur

Gus Dur dikenal luas karena gagasannya mengenai kemanusiaan, demokrasi, pluralisme, dan keberpihakan kepada kelompok yang rentan. Semangat itu pula yang membuat tema “Merusak Alam, Merusak Kemanusiaan” terasa penting untuk terus dibicarakan. Sebab membela lingkungan pada akhirnya adalah membela manusia. Dan membela manusia berarti memastikan bahwa pembangunan tidak menghilangkan hak generasi sekarang maupun generasi yang akan datang untuk hidup dalam lingkungan yang layak.

Jagakota dan Gusdurian Mataram mencoba menghadirkan peringatan Harlah Gus Dur dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: duduk bersama, mendengarkan musik, menonton film, berbicara, berbeda pendapat, dan mencari kemungkinan solusi.

Bukan sebuah peringatan yang selesai ketika acara berakhir. Melainkan percakapan yang diharapkan terus berjalan. Di Jagakota, peringatan Harlah Gus Dur 2026 akhirnya menemukan bentuknya sendiri.

Musik mengajak kita merasakan alam. Film mengajak kita melihat persoalan. Diskusi mengajak kita berpikir. Dan dari sana, muncul pertanyaan yang lebih penting. Yakni apa yang bisa kita lakukan agar kota tetap menjadi tempat yang layak bagi manusia dan alam untuk hidup bersama?

Barangkali itulah cara paling baik untuk memperingati Gus Dur. Bukan hanya dengan mengingat namanya, tetapi dengan meneruskan keberanian untuk membicarakan persoalan-persoalan yang menyangkut kemanusiaan.
×
Berita Terbaru Update