MESKIPUN permintaan daging sapi menjelang maulid kian meningkat, warga Kota Mataram enggan membeli daging beku. Mereka tetap menghendaki daging sapi segar dari rumah potong hewan.
Dinas Pertanian Kota Mataram sendiri secara rutin menerbitkan rekomendasi pasokan daging beku dari luar daerah, baik daging sapi maupun ayam. Hal itu untuk membantu menjaga ketersediaan pasokan daging.
Meski demikian, pasokan daging beku masih tetap untuk memenuhi kebutuhan sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), serta industri pengolahan makanan.
Sedangkan konsumsi rumah tangga, masyarakat Mataram memilih daging segar yang dijual di pasar tradisional . Kondisi itu membuat permintaan daging beku dari konsumen umum relatif rendah.
"Masyarakat yang beli daging beku ada, tapi sedikit dan kebanyakan memilih daging segar," jelas Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Hapiludin, Kamis.
Penjualan daging beku juga tidak dapat dilakukan secara bebas di pasar tradisional yang tidak memiliki fasilitas pendingin. Sebab daging beku harus tetap dipertahankan dalam kondisi beku untuk menjaga keamanan dan kualitasnya.
"Saat ini di Mataram ada puluhan pelaku usaha daging beku yang aktif," katanya.
Hapiludin memperkirakan peningkatan pemotongan sapi akan mulai terlihat setelah memasuki pertengahan bulan Maulid. Yakni sejak 25 Agustus 2026.
Saat kondisi normal, dua Rumah Potong Hewan (RPH) di Kota Mataram mencatat sekitar 35 hingga 40 ekor sapi yang dipotong di sana setiap hari. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 50 hingga 60 ekor per hari.
Menurut Hapiludin, peningkatan tersebut tidak terlepas dari tradisi masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi, terutama di sejumlah wilayah yang menggelar perayaan dalam skala besar. Beberapa di antaranya berada di kawasan Paguutan, Sekarbela, dan Dasan Agung.
Meningkatnya permintaan turut berdampak terhadap harga daging sapi di pasaran. Harga yang sebelumnya berada pada kisaran Rp135.000 hingga Rp140.000 per kilogram dapat meningkat menjadi sekitar Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram.
"Dalam kondisi seperti itu, kami tidak bisa intervensi penuh karena terjadi hukum pasar. Permintaan meningkat maka harga naik," ujar Hapiludin.
"Masyarakat yang beli daging beku ada, tapi sedikit dan kebanyakan memilih daging segar," jelas Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Mataram Lalu Hapiludin, Kamis.
Penjualan daging beku juga tidak dapat dilakukan secara bebas di pasar tradisional yang tidak memiliki fasilitas pendingin. Sebab daging beku harus tetap dipertahankan dalam kondisi beku untuk menjaga keamanan dan kualitasnya.
Sementara itu distributor daging beku rata-rata mengajukan kuota sekitar 5 hingga 7 ton sekali pengiriman, menyesuaikan kapasitas kontainer berpendingin yang digunakan.
"Saat ini di Mataram ada puluhan pelaku usaha daging beku yang aktif," katanya.
Namun demikian Dinas Pertanian Kota Mataram memastikan ketersediaan sapi untuk memenuhi kebutuhan selama perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 tetap aman.
Pasokan sapi terus didatangkan secara berkala melalui rekomendasi pengiriman ternak dari sejumlah daerah, salah satunya Kabupaten Sumbawa.
Pasokan sapi terus didatangkan secara berkala melalui rekomendasi pengiriman ternak dari sejumlah daerah, salah satunya Kabupaten Sumbawa.
Dalam kondisi normal, jumlah sapi yang masuk berdasarkan rekomendasi pengiriman berada di kisaran 100 ekor per minggu. Namun, menjelang hari besar keagamaan, meningkat hingga sekitar 150 ekor per minggu. Angka itu belum termasuk pasokan dari peternak lokal maupun kabupaten penyangga di sekitar Mataram.
Hapiludin memperkirakan peningkatan pemotongan sapi akan mulai terlihat setelah memasuki pertengahan bulan Maulid. Yakni sejak 25 Agustus 2026.
Saat kondisi normal, dua Rumah Potong Hewan (RPH) di Kota Mataram mencatat sekitar 35 hingga 40 ekor sapi yang dipotong di sana setiap hari. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 50 hingga 60 ekor per hari.
Menurut Hapiludin, peningkatan tersebut tidak terlepas dari tradisi masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi, terutama di sejumlah wilayah yang menggelar perayaan dalam skala besar. Beberapa di antaranya berada di kawasan Paguutan, Sekarbela, dan Dasan Agung.
Meningkatnya permintaan turut berdampak terhadap harga daging sapi di pasaran. Harga yang sebelumnya berada pada kisaran Rp135.000 hingga Rp140.000 per kilogram dapat meningkat menjadi sekitar Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram.
"Dalam kondisi seperti itu, kami tidak bisa intervensi penuh karena terjadi hukum pasar. Permintaan meningkat maka harga naik," ujar Hapiludin.
.png)